Jumat, 27 Desember 2013

RUMAH PINTAR REMASI

                                    kegiatan yang positif diluar rumah bagi remaja
              

          Masa remaja sering juga disebut sebagai masa transisi seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Karena masa remaja dalam pertumbuhannya masih mencari jati diri untuk membentuk karakter kepribadiannya, Karena itu diharapkan dalam mengisi waktu luangnya seorang remaja harus melakukan suatu hal yang bersipat positif dan bermanfaat sehingga perilaku yang positif ini tentunya akan menjadi dambaan para orangtua, masyarakat bangsa dan Negara, Disamping itu perlu menjadi catatan bahwa masa remaja adalah masa penuh keingintahuan, sehingga banyak hal yang mereka lakukan hanya mencoba untuk menuntaskan rasa keingintahuannya itu.Namun, seringkali mereka salah mendapatkan informasi hanya karena mereka mendapatkan jawaban bukan dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Hal inilah yang harus menjadi perhatian semua pihak, baik orangtua, masyarakat maupun pemerintah.
kegiatan positif remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab orangtua saja tapi peran serta masyarakat dan pemerintah
           Melalui sarana dan prasarana RUMAH PINTAR REMASI remaja ini tentunya dapat tercipta suatu wadah agar aktualisasi remaja bisa berjalan dengan baik, dimana remaja dapat melakukan kegiatan positif yang bermanfaat di luar pendidikan formal. Diharapkan para remaja juga dapat berinteraksi sosial dengan sesamanya dan berekreasi secara positif serta terarah dalam lingkungan terpadu antara kegiatan edukatif dan rekreatif yang nyaman.
Begitu juga apresiasi remaja terhadap seni dibuktikan dengan seringnya diadakan pagelaran pentas, festival terutama musik yang diadakan oleh REMASI Karena itu untuk mengembangkan kegiatan positif remaja diluar rumah agar dapat menyalurkan bakat, minat dan dinamika remaja



Beberapa kegiatan positif bagi remaja muslim antara lain :


1.    Mengikuti kegiatan masjid yang merupakan pusat kegiatan keislaman dalam mengasah wawasan dan menambah pengetahuan dibidang keagamaan sebagai pedoman hidup.
2. Pendidikan keluarga Dalam mengisi waktu luang, peran pendidikan keluarga sangat penting pengaruhnya dalam menentukan model dan methode kegiatan yang terbaik dalam mengoptimalkan pemanfaatan waktu luang bagi remaja muslim untuk memperluas wawasanya dalam ruang lingkup kegiatan keluarga.
3. Mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Dalam membentuk  remaja  sebagai generasi muda yang berkualitas, sangat diharapkan untuk dapat ikut berpartisipasi aktif dalam mengikuti segala kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dengan niat dan semangat yang positif. Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antar sesama dan menumbuhkan rasa solidaritas.
4.olahraga. Kegiatan olah raga termasuk dalam salah satu kegiatan yang positif dan terarah. Karena dengan berolah raga, remaja dapat menjaga kondisi tubuhnya agar selalu sehat dan dapat melakukan segala aktifitasnya.
Kebutuhan Rumah Pintar Remasi Kecamatan Mandau

        selama ini keberadaan lapangan dan fasilitas umum yang menjadi sarana aktualisasi diri para pemuda dan pemudi telah dilupakan Maka dengan Tidak Adanya RUMAH PINTAR REMASI dan fasilitas umum lainnya membuat para pemuda dan pemudi yang ingin mengaktualisasikan diri menjadi semakin minim. Melihat kondisi ini sepertinya akan semakin sulit untuk mengharapkan munculnya potensi pemuda dan pemudi, baik dibidang olahraga maupun remaja berprestasi lainnya. Kegiatan positif para remaja ini memang sangat diperlukan apalagi diwilayah kita ini Mungkinkah keberadaan RUMAH PINTAR REMASI ini bisa terwujud diwilayah KELURAHAN BALIK ALAM, Kemungkinan itu bisa saja terwujud, tergantung dari kemauan semua pihak yang peduli terhadap keselamatan generasi muda kita dari ancaman bahaya narkoba dan kegiatan negatif lainnya. Sehingga keberadaan RUMAH PINTAR REMASI sebagai sarana untuk melakukan pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi salah satu usaha yang utama dalam mewujudkan masa depan bangsa. Disamping itu keberadaan RUMAH PINTAR REMASI juga bisa menjadi wadah aktivitas remaja yang diharapkan dapat menghasilkan remaja yang mandiri dan berguna bagi Pemerintah Daerah. Tidak ada alasan bagi Pemerintah Bengkalis untuk tidak mengalokasikan anggaran bagi terwujudnya RUMAH PINTAR REMASI di tiap Kelurahan yang berada dikecamatan mandau, karena potensi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bengkalis dari tahun ketahun selalu mengalami peningkatan. Apalagi program keberadaan RUMAH PINTAR REMASI sudah menjadi program utama dari kementerian pemuda dan olahraga sehingga terkait dengan bantuan anggaran,
























Selasa, 17 Desember 2013

: Apa Itu Politik Islam?

Apa Itu Politik Islam?

 “Islam Yes, Politik No”.
 demikianlah kalimat singkat pernyataan dari seorang cendekiawan mulism Indonesia, Nurcholis Madjid (alm.) yang biasa di panggil Cak Nur, di era 70 – an.   Gagasan ini dilontarkan dalam rangka mendukung gagasannya yang saat itu sudah sering dikampanyekan, yakni “sekularisasi”. Meski saat ini jargon tersebut sudah tampak lama sekali, namun jargon warisan Cak Nur ini masih sangat terasa nyata pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat, khususnya kaum muslim Indonesia hingga saat ini.
Bagi kalangan tradisionalis, gagasan ini semakin memperkuat pandangan mereka terhadap pemisahan agama dari politik. Ini disebabkan karena realitas perpolitikan yang ada ditengah-tengah masyarakat saat ini memang dipenuhi dengan kekotoran dan kemunafikan. Kekotoran inilah yang dalam pandangan mereka dapat menodai kesucian agama (baca : Islam). Pandangan kaum tradisionalis ini semakin mentajassud/mendarah daging dengan munculnya jargon-jargon dari para kiayi atau tokoh mereka yang menguatkan pemahaman tersebut. Adalah Gus Dur (alm), dengan lantangnya pernah menyatakan bahwa “politik itu najis”, meski pada akhirnya ia sendiri terjun ke dunia politik dengan membentuk PKB sebagai pecahan dari PPP.
Terlepas dari hal tersebut di atas, pertanyaan mendasar yang sekarang penting untuk dijawab : apakah benar Islam tidak mengenal politik?
Sebelum mengetahui bagaimana Islam memandang persoalan tersebut di atas, ada baiknya kita meninjau beberapa pengakuan dari beberapa tokoh politik dunia terhadap hal tersebut. John L. Esposito dalam Islam and Politics, dengan jujur mengakui realitas sejarah umat Islam di masa awal hingga keruntuhannya senantiasa berpaku kepada aqidah Islam, Esposito menyatakan bahwa Agama (Islam) memberikan pandangan dunia, gagasan untuk kehidupan pribadi dan bersama, baik pada masa khulafaurrasyidin, Umayyah dan Abbasiah, menurutnya dasar ideologi masyarakat maupun Negara saat itu adalah Islam. Lebih lanjut dia merincikan bahwa legitimasi dan otoritas penguasa, lembaga-lembaga peradilan, pendidikan dan sosial berakar pada Islam. (Esposito, 1990).
Bukan hanya Esposito, banyak sekali orientalis lainnya – terlepas dari kesimpulan yang diambilnya dan juga maksud dari pernyataan-pernyataannya – yang mengakui bahwa Islam bukan sebatas agama spiritual (ruhiyah) melainkan agama politik (siyasiyah). Adalah Fathi al-Durayni, ilmuwan asal Yordania, dalam bukunya Khasa’is al-Tashri‘ al-Islami fi al-Siyasah wa al-Hukm, berpendapat bahwa Islam telah menimbulkan satu revolusi terhadap konsep agama. Berbeda dengan agama lain, Islam menghubungkan agama dengan politik, agama dengan sains, dunia dengan akhirat; Hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah. Al-Durayni juga menjelaskan bahwa aktivitas politik politik kaum muslim dipandang sebagai ibadah, seperti halnya sholat, zakat, puasa dan sebagainya.
Senada dengan itu, al-Qaradawi menyatakan bahwa terdapat hubungan simbiosis antara Islam dengan politik sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan daripada hakikat Islam itu sendiri. Penolakan dan pemisahan politik daripada Islam, menurut beliau merupakan satu kejahilan dan miskonsepsi terhadap hakikat Islam. Pendapat-pendapat para ulama dunia di atas sejalan dengan ulama-ulama terdahulu. Ibn Taymiyyah, misalnya, beliau menyatakan bahwa kekuasaan politik merupakan min a‘zam wajibat al-din (satu kewajiban agama yang utama).
Pengertian Politik
Politik berasal dari Bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά (politika – yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya πολίτης (polites – warga negara) dan πόλις (polisNegara kota). Secara etimologi kata “politik” masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata “politis” berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata “politisi” berarti orang-orang yang menekuni hal politik. Dalam perspektif barat, politik seringkali dimaknai sebagai kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, politik diartikan sebagai (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan). Politik diartikan juga sebagai segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain (KBBI online). Dari pengertian tersebut, maka istilah politik dilihat secara bahasa lebih menekankan kepada kekuasaan, peraturan urusan publik, penerapan kebijakan, bentuk dan sistem pemerintahan.
Sedikit berbeda dengan pengertian di atas, Politik dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah Siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah syar’iyyah, misalnya dalam kamus Al Muhith, siyasah berakar kata sâsa – yasûsu. Dalam kalimat Sasa addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama ‘alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al-Amra artinya dabbarahu (mengurusi/mengatur urusan). Kata sasa-yasusu-siyasatan berarti memegang kepemimpinan masyarakat, menuntun  atau melatih hewan dan mengatur dan memelihara urusan.
Jika dalam Bahasa Inggris  “politik” identik dengan kekuasaan, maka dalam Bahasa Arab arti “siyasah” lebih menekankan pada arti pengurusan urusan masyarakat. Perbedaan penekanan dalam mengartikan politik, membawa konsekuensi pelaksanaan perpolitikan dewasa ini. Maka wajar saja jika politik sekarang lebih mengedepankan perebutan kekuasaan daripada pengurusan urusan rakyat. Oleh karena itu, wajar jika Harold Laswell dalam Who Gets What, When and How yang lebih mengedepankan masalah politik dengan berkutat pada persoalan SIAPA mendapat apa, kapan dan bagaimana. Falsafah inilah yang saat ini dianut oleh kebanyakan orang (politikus) saat ini untuk meraih kepentingan pribadi,kelompok dan pemilik modal.
Politik Islam
Politik (siyâsah) adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh Negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi Negara dalam pengaturan tersebut (An Nabhani, 2005). Politik Islam berarti pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam.
Definisi ini juga diambil dari hadits-hadits yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum muslimin. Rasulullah saw bersabda:
“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga” (HR. Bukhari dari Ma’qil bin Yasar ra)
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda:
Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya (tasûsûhum) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan banyak khalifah”.(H.R. Imam Muslim dari Abi Hazim)
Pengertian di atas merupakan pengertian syar’i karena diambil dari dalil-dalil syara’. Dari definisi ini pula, dapatlah kita klasifikasikan bahwa politik Islam melibatkan dua pelaku, yaitu Negara dan Umat/rakyat, kemudian meliputi pengaturan dalam negeri dan luar negeri, dan terakhir adalah sumber legislasinya adalah hukum Islam.
Terkait dengan legislasi, Islam menetapkan bahwa perundang-undangan harus berasal dari Sang Pencipta (Allah), karena Dialah yang telah menciptakan alam semesta dan manusia berikut aturannya. Maka yang berhak mengeluarkan hukum atas sesuatu (asyâ) dan perbuatan (af’âl) adalah Allah sebagai Pembuat Hukum (al-Syari’) sebagaimana firman Allah SWT;
“Menetapkan hukum hanyalah milik Allah. Dialah menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang terbaik.” (TQS. al-An’am (6) : 57)
Atas dasar inilah maka dalam Islam kedaulatan berada di tangan Syara’ bukan di tangan rakyat, dimana manifestasinya tertuang di dalam al-Qur’an dan al-Hadits serta yang sumber lain yang ditunjuki oleh keduanya yakni berupa ijma sahabat dan qiyas syar’iyyah. Keempat sumber rujukan tersebut dinamakan sebagai sumber hukum syara’ (Syari’at Islam). Mayoritas ulama Islam tidak berbeda pendapat dalam menentukan siapakah al-Hakim (Pembuat Hukum) dalam Islam. Imam al Syaukani menyatakan tidak ada perselisihan dalam masalah ini (Khalidi, 2004).
Penutup
Mendefinisikan politik Islam dengan term politik sekarang malah akan membawa kepada kekaburan pengertian politik yang diambil oleh Islam. Secara bahasa pun, Islam mengambil term Arab “Siyasah” yang berarti pengaturan urusan umat, bukan pengertian politik saat ini yang menekankan kepada kekuasaan. Maka wajar saja jika umat Islam yang ingin menjaga kemurnian ajarannya menolak politik yang sekarang diterapkan oleh negeri ini juga oleh parpol-parpol Islam. Kekhawatiran menjadikan agama sebagai tameng dalam meraih kekuasaan politik akhirnya menjadi kenyataan. Alih-alih ingin menerapkan syariah Islam melalui jalur politik, namun yang diambil adalah politik dalam term sekuler mengakibatkan dirinya terjerumus dalam kekacauannya.
Perbedaan penekanan dalam penggunaan istilah antara “politik” dan “siyasah”, bukan berarti harus ada penggantian dari kata politik dengan kata siyasah. Karena secara subtansi pengertian keduanya diambil dari realitas aktivitas politik yang sebenarnya, yaitu pengaturan urusan umat baik di dalam ataupun di luar negeri. Perbedaannya hanyalah dari sisi penggunaan aturan dan hukum yang berbeda sesuai dengan ideologinya. Wallahu’alam.

Minggu, 21 April 2013

BACK TO MASJID


kenakaln remaja


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1              LATAR BELAKANG
                        Di zaman era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini kenakalan remaja semakin mengkhawatirkan. Perlu adanya bimbingan dan pendekatan secara psikologis agar kenakalan remaja tidak semakin parah. Banyak hal yang menjadi penyebab kenakalan remaja, salah satu di antaranya adalah mengenai latar belakang remaja itu sendiri. Setiap remaja memiliki lingkungan yang berbeda-beda serta latar belakang ekonomi yang berbeda-beda, pergaulan, keluarga, pendidikan dan seterusnya. Pergaulan yang salah menjadi salah satu penyebab terjadinya kenakalan remaja. Apalagi di zaman  sekarang ini dengan alasan modernisasi para remaja ingin mencoba sesuatu yang seharusnya tak pantas dikerjakan. Misalnya penggunaan obat terlarang seperti narkoba, minum-minuman keras, pergaulan bebas dan sebagainya.  Apabila kenakalan remaja dibiarkan begitu saja, tentu akan merusak masa depan mereka sendiri, terlebih masa depan bangsa ini. Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal rokok, narkoba, freesex,dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat dipungkuri lagi, kita dapat melihat brutalnya remaja zaman sekarang.
                        Hal-hal seperti ini telah menjadi sebuah kelaziman  dikalangan remaja. Padahal remaja atau pemuda adalah  harapan agama dan bangsa. Merupakan sebuah tonggak harapan , yang menjadi agent of change, social  control dan iron stock.

1.2              RUMUSAN MASALAH
1.      Siapa remaja itu ? Kapan orang disebut remaja ?
2.      Apa saja contoh kongrit kenakalan remaja ?
3.      Adakah faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja ?
4.      Bagaimana solusi perspektif Islam dalam menanggapi kenakalan remaja ?
5.      Bagaimana sebaiknya etika pergaulan remaja itu ?
6.      Apa andil remaja dalam pembangunan agama dan bangsa ?

1.3              TUJUAN
            Tujuan pembahasan ini adalah untuk menggambarkan kehidupan dan kenakalan remaja dewasa ini. Serta mendeskripsikan solusi perspektif Islam dalam menanggapi berbagai macam integritas etika pergaulan remaja. 


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1       REMAJA DAN KENAKALAN
            2.1.1    Kenakalan Remaja
                                    Remaja adalah usia yang dipenuhi dengan semangat yang sangat tinggi tetapi adakalanya semangat tersebut mengarah ke sesuatu yang bersifat negatif sehingga sering disebut dengan kenakalan remaja. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remajaadalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Masa  remaja  awal  merupakan  masa  transisiatau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan,  dimana  terjadi juga  perubahan  pada  dirinya  baik  secara  fisik, psikis,  maupun  secara  sosial (Hurlock,  1973).  Pada  masa  transisi  tersebut kemungkinan  dapat  menimbulkan masa  krisis,  yang  ditandai  dengan kecenderungan munculnya  perilaku menyimpang. Pada kondisi  tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu . Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa.

                        Seiring denga perubahan fisik dan psikis muncullah prilaku menyimpang atau kenakalan. Kenakalan didefenisikan sebagai suatu perbuatan yang melanggar norma, menyimpang dari hukum dalam masyarakat, peraturan sosial, adat, hukum dan agama. Oleh karena itu setiap tindakan remaja yang dianggap salah atau tidak pada tempatnya dapat dikatakan atau dikualifikasikan sebagai kenakalan. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan olehremaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Definisi kenakalan remaja juga dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:
a.        Kartono, ilmuwan sosiologi
                        “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
b.      Santrock
      “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
c.       Paul Moedikdo,SH 
1). Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi  anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana,            seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya. 
2).  Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk       menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3). Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.

            2.1.2    Contoh, Faktor – Faktor, dan Dampak
a. Contoh Kongkrit
                        Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya: pencurian yang dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau mengagumkan.

                        Berikut ini adalah beberapa contoh atau jenis - jenis kenakalan remaja yang            sering   timbul di masyarakat :
a.       Membolos sekolah
b.      Kebut-kebutan di jalanan
c.       Geng motor
d.      Penyalahgunaan narkotika
e.       Perilaku seksual pranikah
f.       Perkelahian antar pelajar
g.      Melawan orang tua dan guru
h.      Malas beribadah
i.        Merusak fasilitas umum
j.        Tawuran
k.      Berkelahi dengan teman
l.        Nonton majalah atau video porno
m.    Main game berlebihan
n.      Judi besar dan kecil-kecilan
o.      Menghabiskan uang sekolah
p.      Bersifat agresif
q.      Bersifat pengangguran
r.        Lari dari rumah
s.       Informasi dan tehnologi yang negative
t.        Pengaruh negatif  perkembangan teknologi modern

                        Masih banyak contoh kongkret yang biasa kita jumpai di lingkungan sekitar. Hanya saja terkadang kita terlalu lalai untuk memperthatikan sekitar. Tidak terkecuali para orang rua yang selalu disibukkan dengan pekerjaannya.

b.        Faktor yang Mempengaruhi
                        Kenakalan  remaja  dalam  studi  masalah  sosial  dapat  dikategorikan ke dalam  perilaku  menyimpang. Dalam  perspektif  perilaku menyimpang masalah sosial terjadi  karena  terdapat  penyimpangan  perilaku  dari  berbagai  aturan-aturan sosial ataupun  dari  nilai  dan  norma  sosial  yang  berlaku.  Perilaku menyimpang dapat dianggap  sebagai  sumber masalah  karena  dapat membahayakan  tegaknya sistem sosial. Penggunaan  konsep  perilaku  menyimpang  secara  tersirat mengandung makna bahwa  ada  jalur  baku  yang  harus  ditempuh.  Perilaku yang tidak melalui  jalur tersebut berarti telah menyimpang. Untuk  mengetahui  latar  belakang  perilaku menyimpang  perlu membedakan  adanya  perilaku  menyimpang yang  tidak  disengaja dan  yang disengaja,  diantaranya  karena  pelaku  kurang memahami  aturan-aturan yang  ada, perilaku   menyimpang  yang  disengaja,  bukan  karena  pelaku  tidak mengetahui aturan. Hal  yang  relevan  untuk  memahami  bentuk  perilaku  tersebut, adalah mengapa  seseorang  melakukan  penyimpangan,  padahal  ia  tahu  apa  yang dilakukan melanggar aturan. Prilaku menyimpang yang muncul pada diri remaja bukanlah sesuatu yang instan. Ada banyak factor yang menyebabkan prilaku itu muncul, baik secara internal (factor dalam rumah dan psikologi) maupun eksternal (factor lingkungan luar)
a.    Faktor Internal
            Masa remaja identik dengan keceriaan, kebingungan, persahabatan, pengenalan diri dan sebagainya. Tidak jarang bila remaja mudah sekali tersinggung. Karena remaja lebih cenderung memiliki sifat egosentris. Dalam factor internal penyebab penyimpangan prilaku remaja, lebih cenderung kepada:
1)        Psikologi Pribadi
                                    Karena mental remaja yang masih tergolong labil dengan didukung                        keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa                        saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan.
2)                 Keluarga
Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).
                                                Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan prilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik. Begitupu dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

b.    Faktor Eksternal
1)        Lingkungan Masyarakat
                        Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana.
2)        Teman Pergaulan
                                                Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya.

a.         Dampak
                        Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok dengan  bekepribadian buruk. Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna. Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
                        Tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya. Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.

2.2       ANTISIPATIF DAN SOLUSI PERSPEKTIF ISLAM
            Lingkungan memiliki hubungan dengan manusia. Lingkungan mempengaruhi sikap dan prilaku manusia, demikian pula kehidupan manusia akan mempengaruhi lingkunga n setempatnya. Hubungan antara lingkungan dan kehidupan manusia sudah diakui para pemikir dan tokoh dunia sejak dahulu.
            Lingkunga adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.
            Telah disampaikan bahwa terciptanya manusia dimuka bumi ini adalah menjadi kholifah bagi ummat. Realitanya banyak remaja yang kehilangan jati dirinya, dikarenakan berbgai macam alasan. Sehingga berdampak sangat fatal, mulai  dari integritas moral samapi dengan tindak kriminalitas yang mengkhawatirkan.  Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang mampu menjadi suri tauladan yang baik. Pastinya yang tidak memiliki penyimpangan moral. Rasulullah bersabda: “ Innama buitstu li utammima makarima al-akhlaq”, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq ummat”. Rasulullah merupakan figur terhebat dalam Islam. Yang memiliki

          2.2.1       Cara Islam Mengatur Pergaulan Manusia
               Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi olehpembawaan dan lingkungan. Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash: 77.
               Pergaulan secara sehat menurut syariat Islam ialah pergaulan yang diidentifikasikan secara sehat dan menurut syariat Islam pergaulan ini sangat bagus dan tidak merugikan siapa pun terutama diri kita sendiri. Karena secara fisik ialah pergaulan yang sangat luar biasa yang ditanamkan kepada semua umat Islam agar tidak salah pilih terhadap pergaulan. Banyak keuntungan yang bisa kita rasakan dari pergaulan sehat.
            Islam telah mengatur perilaku remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah:
a.    Menutup Aurat
          Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya, terutama kepada lawan jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta tidak menimbulkan fitnah.
          Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan bagi perempuan yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Disamping aurat, pakaian yang dikenakan jug a tidak boleh ketat, transparan atau tipis sehingga tembus pandang tidak memperlihatkan lekuk tubuh.
          Dalam (QS. An Nur [24] : 31)"Janganlah mereka menampakkan perhiasannya selain yang biasa tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimar) ke bagian dada mereka"  

b.    Menjauhi Perbuatan Zina
          Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian. Pergaulan di dalam Islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan denngan lawan jenis haruslah ada jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada akhirnya akan merusak pridasi pelaku sendiri maupun masyarakat umum. Allah berfirma dalam surat Al-Isra’ ayat 32:
artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan buruk
          dalam rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agarterhindar dari perbuatan zina, Islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut:
1)    Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jikalaki-laki dan perempuan di tempat yang sepi maka yang ketiga adalah syetan.
2)   Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling besentuhan yang dilarang dalam Islam adalah sentuhan yang disengaja dan disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja dan tidak disertai nafsu.

2.2.2    Etika Pergaulan yang Baik
            Semua agama dan tradisi telah mengatur tata cara pergaulan remaja. Ajaran islam sebagai pedoman hidup ummatnya juga telah mengatur tata cara pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai agama. Tata cara itu meliputi:
a.    Mengucapkan Salam
                   Mengucapan salam ketika bertemu dengan teman atau orang        lain   sesama muslim. Ucapan salam merupakan doa, dengan kata           lain kita       telah mendoakan orang tersebut.

b.    Meminta Izin
          Meminta izi disini berarti tidak boleh meremehkan hak-hak orang lain. Karna setiap hak yang kita miliki pasti dibatasi juga dengan hak-hak orang sekitar kita.

c.    Menghormati Orang yang Lebih Tua dan Menyayangi yang Muda
          Remaja sebagai orang yang lebih muda sebaiknya menghormati yang lebih tua dan bisa mengambil hikmah dari sejarah kehidupan mereka. Ini semua tidak hanya berlaku untuk orang yang lebih tua, kepada orang yang lebih muda dari merekapun remaja harus memberi tuntunan dan bimbingan untuk selalu berada di jalan yang benar.

d.    Bersikap Santun dan Tidak Sombong
          Dalam bergaul, penekanan  prilaku yang baik sangat dicamkan, agar orang lain bisa merasa nyaman bersama kita.kemudian sikap dasar remaja yang biasanya ingin terlihat lebih dari temannya. Hal seperti ini tidak pernah diterapkan dalam Islam. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

e.    Berbicara dengan Sopan
          Islam mengajarkan untuk bertutur sopan dan lembut, mengutamakan perkataan yang bermanfaat dengan gaya yang wajar dan tidak bual.

f.     Tidak saling Menghina
          Adalah sebuah kebiasaan yang tidak baik untuk remaja pada dewasa ini. Mengumpat hukumnya dilarang dlam Islam, sehinggadalam pergaulan antar sesama sebaiknya selalu menjaga perkataan.

g.    Tidak Saling membenci dan Iri Hati
          Rasa iri akan berdampak dan berkembang menjadi kebencian yang pada akhirnya mengakibatkan putusnya hubungan baik antar sesame. Iri hati merupakan penyakit hati yang membuat hati kita dapat merasakan ketidaktenangan serta merupakan sifat tercela baik di hadapan Allah dan manusia.

h.    Mengisi Waktu luang dengan Kegiatan yang Bermanfaat
          Masa remaja sebaiknya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Remaja harus membagi waktunya dengan subjektif dan efesien, dengan cara membagi waktunya menjadi 3 bagian, yaitu: sepertiga untuk beribadah kepada Allah, sepertiga untuk dirinya, dan sepertiga terakhir untuk orang lain.

i.     Mengajak Orang Lain untuk berbuat Kebaikan
          Orang yang memberi petunjuk kepada orang lain menuju jalan kebenaran akan mendapatkan pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu.
                  
            2.2.3    Solusi
                        Dari berbagai permasalahan yang terjadi dikalangan remaja masa kini, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.

a.      Membentuk Lingkungan yang Baik.
                             Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang sholeh, memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakuakan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakuakan hal yang negative akan sedikit berkurang.

b.      Pembinaan dalam Keluarga.
                        Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

c.       Sekolah.
                        Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.

2.3       REMAJA, AGAMA DAN BANGSA
            Remaja, agama dan bangsa pada hakikat memiliki hubungan yang sepadan. Remaja bisa juga disebut dengan pemuda. Pemuda (manusia) adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna keadaannya. Selain diberi bentuk atau rupa yang sempurna, ia masih juga dibekali dengan kemammpuan akalnya. Dengan dibekali kemampuan akal inilah manusia menciptakan berbagaimacam peralatan hidup, pengetahuan, membentuk masyarakat, menyelenggarakan pemerintahan dan bahkan menciptakan kerusuhan.
           
            2.3.1    Remaja dan Agama
                        Allah SWT telah menyeru kepada kita sebagai manusia dengan berbagai macam  taklif. Allah telah menjadikan kita sebagai sasaran  seruan dan taklif melalui syariat-Nya. Allah akan membangkitkan  manusia dan  menghisab amal perbuatannya. Allah SWT menciptakan manusia, baik pria maupun wanita, dengan suatu fitrah yang khas. Wanita adalah manusia, sebagaimana halnya pria. Masing-masing tidak dapat dibedakan dari segi kemanusiaannya. Yang satu tidak melebihi yang lainnya dalam hal ini. Diwajibkan kepada wanita untuk menjalankan sholat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan haji sebagaimana diwajibkan pula kepada pria.                          Allah berfirman dalam QS. Al Hujurat:49 yang artinya:
“Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal”
                                    Dalam hal ini Allah menyediakan tantangan sebagai stimulan kehidupan yang untuk merangsang munculnya semangat perubahan sekaligus nurani kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak memiliki nurani akan melihat tantangan sebagai beban berat, mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. bagi orang yang mempunyai nurani kepahlawanan akan mengatakan kepada tantangan tersebut “Ini untuk ku”.
                        Pemuda Islam akan selalu berjuang untuk menjadikan tantangan sebagai motifasi demi kesejahteraan umat manusia. Dalam beragama mereka tidak memahaminya sebagai ritual belaka, melainkan sebuah kerja, sebuah aksi nyata. Tidak sedikit yang memahami agama merupakan ritual belaka, paradigma harus segera diubah karena agama tidak seperti itu.
                        Agama merupakan pranata untuk menyempurnakan kemanusiaan manusia, dan pada waktu yang bersamaan berfungsi untuk mengangkat harkat dan derajat manusia. Dengan demikian, pemahaman yang komperhensif terhadap agama akan mampu membangun moral force yang tangguh dan compatible, sebagai salah satu syarat membangun bangsa yang telah sekian lama dihimpit dan terjerumus dalam kemunduran.
                        Untuk membangun bangsa menuju kepada kemajuan dan kejayaan, tidak hanya menitik beratkan pada pembangunan “fisik”, tetapi ada yang lebih penting untuk dibangun, yaitu pembangunan kristal nilai dan rasa yang terdapat pada wilayah yang transenden. Pendekatannyapun menggunakan pendekatan yang berorientasi pada wilayah spiritual. Maka tugas penting daripada orang tua yaitu menanamkan pendidikan agama sejak dini kepada anak-anaknya.

            2.3.2    Remaja dan Bangsa
                        Para pemuda ibarat ruh dalam setiap tubuh komunitas atau kelompok, baik itu dalam lingkup kecil ataupun luas seperti negara. Mereka merupakan motor penggerak akan sebuah kemajuan  bangsa. Makanya tidak heran, jika ada yang mengatakan bahwa sebuah negara akan menjadi kuat eksistensinya, ketika para pemudanya mampu tampil aktif dan dinamis di tengah masyarakat.
                                    Ketika kita membicarakan sosok seorang pemuda, maka sebenarnya sama halnya kita sedang berbicara mengenai dunia remaja. Menurut beberapa pakar psikologi yang telah disebut di atas, masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan. Oleh sebab itu di sinilah mental remaja itu akan benar-benar diuji. Berbagai fenomena yang syarat akan jawaban dan persoalan yang menuntut sebuah solusi akan terus senantiasa mengiringinya.
                        Tongkat estafet pembangunan karekter bangsa dan negera ini akan terus berganti dari masa ke masa, seiring dengan pergantian generasi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sosok generasi yang tangguh dan ulet untuk mengemban amanah besar ini. Pemuda, dengan segala kelebihan dan keistimewaannya sangat diharapkan untuk dapat mewujudkan cita-cita nasional menuju bangsa yang bermartabat dan berdaulat secara utuh. Tentunya pemuda yang dimaksud adalah mereka-mereka yang mempunyai jiwa nasionalisme, patriotisme serta didukung dengan komitmen moral yang kokoh.
                        Dalam sejarah kemerdekaan negara republik Indonesia, remaja atau pemuda telah ikut andil dalam menciptakan sebuah cita-cita bangsa, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Teks sumpah pemuda menjadi bukti eksistensi pemuda Indonesia.








                       





Demikianlah Sumpah Pemuda yang diikrarkan 83 tahun yang lalu. Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa masyarakat yang tertindas menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa ini lepas dari cengkeraman kolonial karena jasa kaum muda.              Catatan sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia sudah membuktikannya. Mereka, para pemuda ini, muncul atas air mata, keringat dan darah rakyat Indonesia. Kurang lebih 350 tahun, selama itu, Indonesia hidup dalam kesengsaraan. Kebebasan yang terampas, dan pergerakkan perjuangan dibawah tekanan penjajah. Hingga ketika pada tanggal 28 oktober 1928 sebelum kemerdekaan, para pemuda ini menggetarkan hati rakyat Indonesia, “Kami Putra-putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, darah Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.  Semangat mereka mewakili cita-cita perjuangan bangsa, yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Sumpah Pemuda”. Para pemuda ini bekerja tanpa pamrih. Yang diinginkannya hanyalah kemerdekaan , kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sampai kerja keras mereka berbuah dengan indah, cita-cita yang diperjuangkan, mengenai kebebasan, sampai kini dinikmati oleh semua kalangan rakyat Indonesia.
                        Sekali lagi, sejarah membuktikan pentingnya peran pemuda dalam mengubah bangsa. Tinta emas yang ditorehkan selalu menyita perhatian dari berbagai jenis kalangan dan golongan. Tidak peduli dari warna mana pemuda itu berasal, langkah tegapnya selalu dinanti-nanti. Karena geraknya merupakan manifestasi pembangunan bangsa.

BAB 3
PENUTUP
3.1       KESIMPULAN
            Dewasa ini banyak hal-hal yang terlupakan oleh kita sebagai manusia, khususnya orang tua dan remaja. Sering sekali terjadi kelalaian dalam proses pendidikan. Hingga tidak heran banya remaja yang tidak tebentuk sesuai dengan ajaran agama. Hal ini tentu tidak hanya disebabkan oleh kelalaian dalam peroses pendidikan saja, terdapat banyak faktor yang menunjang penyimpangan tersebut, misalkan keluarga yang tidak harmonis, teman sepergaulan, teknologi modern dan lain sebagainya.
            Remaja yang menjadi obyek disini merupakan iron stock bagi agama dan bangsa. Maka apabila terjadi kegagalan dalam proses pendidikan remaja, tidak hanya berdampak pada keluarga, agama dan bangsa saja tetapi akan lebih berdampak pada spikologi remaja itu sendiri. Remaja yang sering melakukan penyimpangan akan menjadi terbiasa oleh hal-hal buruk. Sangat berbeda dengan remaja yang telah ditanamkan pendidikan agama dalam hidupnya. Sehinggga satu yang harus dicamkan kepada para orang tua yaitu, penanaman pendidikan agama sejak dini. Karena sangat dikhawatirkan kepada remaja yang tidak memiliki rasa takut terhadap tuhannya akan mempunyai peluang besar untuk melakukan penyimpangan moral bahkan sampai dengan tindakan kriminal.
            Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik remaja. Terlebih dalam mendidik remaja yang telah terjerumus lebih dulu. Dalam ini para orang tua harus lebih menciptakan suasana keluarga diniyah yang harmonis dan memperhatikan teman sepergaulannya. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan dalam memperbaiki kenakalan yang terjadi saat ini. Semuanya adalah tanggung jawab kita, orang bijak tidak meyalahkan keadaan tetapi mecari solusi untuk mengahadapi kenyataan.

3.2       SARAN
            Marilah kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk memperbaiki masa depan generasi kita, karena hitam dan putih bangsa ini ada di tangan mereka semua. Jika kita tidak memulai dari sekarang dan dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai dan memperbaikinya. Tidak ada lagi kata untuk saling menyalahkan. Untuk memulai perbaikan ini butuh keseriusan semua pihak. Marilah kita sama-sama serius untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Marilah kita memulai tidak hanya dengan bermimpi tetapi dengan usaha yang nyata.